Friday, September 04, 2009

Ngapain dipikirin

Cuma ada satu pertanyaan yang gak pernah bisa saya jawab.
Yaitu pertanyaan dari orang yang bertanya tanpa mengharapkan jawaban.

Wednesday, February 25, 2009

Human Relationship Mythology


Naskah & Ilustrasi: Arya

Tuesday, February 24, 2009

Buyology



Cerita & Illustrasi: Arya


Gara-gara Zaky. Nih, gue juga bisa!

Thursday, January 08, 2009

Sebelum Lupa

Buat Kalil.

Saat tua nanti, Ayah mungkin lupa. Atau pikun. Atau terlalu ringkih. Atau terlalu angkuh. Atau terlalu nyaman.

Jadi sebelum lupa, lebih baik ayah tulis di sini pesan untukmu.

Nak,
Saat kau cukup dewasa nanti.
Tubuhmu kuat, otakmu beringas, genggamanmu hangat, hatimu luas.
Saat itu, berhentilah memikirkan ayah.
Berhentilah menghiraukan sekat-sekat di dalam rumah.
Berhentilah memusingkan nama baik keluarga.
Berhentilah memedulikan obrolan arisan teman-teman bunda.
Berhentilah berpura-pura hadir di acara gathering keluarga.

Sebab hidup terlalu singkat. Jadi berhentilah menjalani hidup orang lain.

Bahagialah dengan caramu.

(Anggap saja ayah baru bertemu orang gila di ujung gang, yang mengingatkan ayah akan perjalanan hidupmu yang masih panjang.)

Tuesday, November 25, 2008

Malaikat

Saya bukannya gak percaya malaikat. Cuma memang sering lupa.
Dan kali ini Tuhan mempertemukan saya sama malaikat.


Kalil Kalbi Aryashabaz Gu
9 November 2008

Monday, November 24, 2008

Tempat Penitipan

Sudah setahun lebih sejak Papa wafat. Sudah selama itu pula saya ingin menuliskan sesuatu di blog ini tentang itu, tapi selalu gagal.

Maka beberapa waktu kemarin, saya menyempatkan diri sholat untuk lalu meminta Tuhan memberikan akses SLJJ untuk bicara sama Papa. Saya bilang dalam sholat saya, kalo saya perlu ngobrol sama my old man untuk mendapat inspirasi tulisan. Saya juga bilang, karena sekarang tanggal tua, kalo bisa collect call saja.

Setelah tersambung dan sejenak kangen-kangenan, saya akhirnya membuka obrolan lumayan serius.

Saya: Pa, tolong ceritakan gimana rasanya punya anak kayak saya?

Papa: Gimana ya? Papa cuma tahu kalo anak adalah titipan. Maka, saat mendapat kamu, langkah pertama yang Papa lakukan adalah pergi ke mesjid untuk mencari tempat penitipan sandal. Tapi kamu kayaknya gak nyaman tidur di kotak kayu bernomor. Lalu Papa pergi mencari brankas. Tapi kamu kedinginan di dalamnya. Akhirnya sambil berpikir mencari tempat penitipan lain, Papa kamu dekap saja. Eh, kamu malah tertidur dengan nyaman.

Saya: Terus?

Papa: Sejak itu Papa sadar, detak konstan jantung Papa-lah yang menjanjikan ritme kepastian. Aliran darah Papa menyanyikan nina bobo. Dan bau keringat Papa adalah terapi kehangatan yang bercerita tentang sinar matahari menembus jendela, agar kau selalu terbangun dengan harapan baru.
Saya: Lalu kenapa Papa meninggalkan saya? Bukankah saya tidak bisa hidup tanpa dekapan Papa?

Papa: Karena kamu sudah mengerti akan Tuhan. Akan sumber kepastian hidup, muara dari segala senandung cinta, serta awal dari setiap langkah. Dan itu cukup menjadi bekal. Tugas Papa selesai.

Tuhan,

Papa mungkin tak banyak membuka kitab, tapi ia selalu membaca ayat-Mu dengan kesungguhannya memberikan interpretasi akan dunia untukku.

Papa mungkin tak banyak menyebut nama-Mu, tapi ia melafalkan asma-Mu melalui aliran cinta tiada henti.

Papa menggambarkan surga lewat matanya. Papa berkisah tentang nabi lewat kewibawaannya. Papa bertafakur dan mengajarkan syukur lewat kerja kerasnya menghidupi kami.

Tidakkah itu semua cukup sebagai tiket masuk surga?

Monday, November 05, 2007

The November Brief



Halo.
Gue Arya. Ini calon istri gue Lia.
Maaf kalo kita harus ketemu malam-malam begini.

Gue ceritain singkat aja ya tentang konsep, apa yang udah dilakukan, yang belum disiapkan, dan yang harus dilakukan malam ini dan besok as the D-day.

Tema pernikahan ini adalah Ikatan yang Membebaskan. Bahwa pernikahan adalah lembaga memproduksi aturan, menegaskan komitmen, untuk saling membunuh kepentingan pribadi, saling membebani dan, itu tadi, saling mengikat. Sebuah legalisasi perzinahan. Merger bisnis.

Tapi ikatan itu yang seharusnya menjadikan kita lebih kuat, lebih kompromis terhadap hidup, lebih toleransi terhadap pandangan lain. Ikatan yang membuat kita merendahkan hati dan kembali mengingatkan bahwa kita cuma mahluk kecil yang menggantungkan dirinya pada koloni sekecil apa pun. Ikatan yang melengkapi perspektif berpikir, menambah kaca mata dalam melihat dunia. Ikatan yang mendewasakan, membuat kita lengkap sebagai manusia dengan segala kebenaran dan kesalahannya. Ikatan yang membebaskan.

Tema itu diturunin ke setiap elemen di pesta pernikahan ini. Akan ada 100 buah lebih layang-layang yang ditebarkan sebagai unsur dekorasi. Sebagai papan nama foodstall, sebagai elemen background sesi foto, dan lain-lain. Foto-foto pre weddingnya diambil di gunung Darajat, di depan kantor Chevron. Sebuah esai foto yang ceritanya tentang bikin layangan sampe nerbangin layangan. Di undangan juga ada unsur layangan. Desain vektornya bertema layangan dan di dalamnya juga ada lukisan handmade bikinan temen bertema sama. Kenapa layang-layang? Cuma sebagai simbol ikatan yang membebaskan. Ikatan yang tetap mengizinkan kamu tetap eksis di angkasa, hingga saat senja kamu bisa pulang ke rumah dalam dekapan hangat bersama susu coklat.

Pesta kebun. Tanpa pelaminan. Pengantin akan jalan-jalan menyambut tamu di sekitar pool. Kalo capek atau mau ngobrol panjang sama tamu, disediain sofa.

Ini color guidelines-nya. Unsur terluar adalah off-white. Semakin masuk ke dalam lingkaran semakin gelap mengarah ke coklat. Jadi, offwhite - lebih gelap - lebih gelap lagi - sampe coklat. Kalo pun mau ada aksen, padukan dengan merah. Juga diaplikasiin ke semua elemen warna.

Bunga gerbera dan crysant salju jadi elemen terluar. Ditaro di materi dekor yang besar-besar seperti tiang-tiang, background foto, gerbang. Di materi yang banyak dapet perhatian kayak bunga meja, akan diinvasi Holland Rose yang agak pucat. Hand Bouquet terdiri dari campuran semua bunga tadi, di tambah anggrek dan mawar merah sebagai aksen di bagian tengah.

Dekor juga gitu. Kain-kain off-white membungkus materi-materi dari bambu yang coklat, ditambah aksen-aksen coklat tua dari kandang burung. Untuk baju akad warnanya off-white untuk kedua mempelai. Sementara baju resepsi, gue pake jas coklat, doi pake gaun coklat tua agak tembaga.

Ini kawinan hemat sodara-sodara sebangsa setanah air.
Katering dapet setengah harga karena punya sodara. Dekorasi gratis karena dapet sponsor dari Zocha Art Center, produsen akar wangi. Sound system 500 watt punya temen kampus. Band Jazz lengkap juga temen kampus. Tim dokumentasi foto dari klub fotografi kampus Unpad. Video dari adeknya temen gue dari sinematografi IKJ. Karena banyak temen kampus juga yang sekarang jadi fotografer atau kameraman TV dan PH, gue minta bawa kamera, silakan rekam sesukanya, tapi abis itu gue minta file-nya. Bunga dapet harga "malu-maluin" karena ngejar langsung ke kebun di Lembang.

Kemaren MC langganan gue ngensel karena room-matenya juga merit. My bad. Gue gak sejak awal booking, karena gue pikir dia udah langganan. Nah itu sebaaaaaaabbbb....Akika telpon kalian berdua malam-malam untuk janjian di sini. Mira jadi MC dan Hesti jadi Koordinator Acara ya. Pleaseeeee.

Dengan catatan juga, kita kan udah kenalan, kita udah ngobrol berapi-api, itu tandanya kita udah temenan, udah akrab malah. Karena itu harganya juga harga temeeeen yaaaaa...plissss...kan udah temenaaaannn..oke? Oke?

Ini rundown acaranya dan ini cue card untuk kalian pegang. Ini histori pertemuan gue sama calon bini. Ini testimoni temen-temen deket. Ini daftar undangan yang mewakili setiap pihak. Siapa tahu bisa membantu kalian mengawal acara dan menyusun omongan.

Panitia penganggung jawabnya cuma gue, bini dan adek gue. Itu orang-orang Zocha Art kalo mau tanya-tanya dekor, Itu Pak Maman dari florist, itu temen-temen bini gue yang nanti jadi usher, itu Tante bini gue yang ngurus katering, itu temen-temen kosan adek gue kalo butuh tenaga dan transport.

Aduh, kenapa? Minum dulu aja. Kamu tersedak karena abis makan celeng-nya Obelix atau karena omongan gue yang mengejutkan?

Ada pertanyaan sodara-sodara?

Photo: Reza Rezqoi